Lut Tawar

Sabtu, 05 Februari 2011

Keutamaan Orang-orang Yang Beriman

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman :
1. Orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya.
2. Orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada
berguna.
3. Orang-orang yang menunaikan zakat
4. Orang-orang yang menjaga kemaluannya
5. Orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.
6. Orang-orang yang memelihara sholatnya.
Keberuntungan orang-orang yang beriman :
Orang-orang yang akan mewarisi syurga Firdaus.Mereka kekal di dalamnya.

(Alqur'an Surat Al Mu'minuun Ayat 1-11)

Kamis, 03 Februari 2011

Tetesan Air dan Batu Keras....

Sebuah batu yang keras jika ditetesi air terus menerus apa yang akan terjadi :
1. Jika tetesannya kecil
Kemungkinan hanya akan membentuk bekas tetesan.
2. Jika Tetesan cukup besar.
Tetesan-tetesan lama-kelamaan akan membuat cekungan, lama-kelamaan cekungan semakin besar dan lama-kelamaan batu akan terbelah.

Begitu juga dalam hidup kita, jika kita ingin mencapai sesuatu maka harus berusaha. Dalam berusaha ada beberapa kemungkinan :
1. Kemungkinan gagal.
Kalau pun gagal, paling tidak ada yang membekas. Paling tidak ada pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran. Kemungkinan kurang keras dalam berusaha ataupun ada yang kurang atau yang lain.
2. Kemungkinan berhasil.
Kalaupun berhasil usaha tersebut tidak serta langsung berhasil dalam sekejap. Tapi butuh waktu dan butuh proses..

Mari kita terus berusaha dan jangan lupa diiringi Doa..

Rabu, 02 Februari 2011

Hujan

Ketika Turun Hujan Deras..
Ada orang yang bilang, " Kok hujan sich, jemuran di rumah jadi basah semua !"
Ada orang yang bilang, " Kok hujan sich, jadi ga bisa pulang !"
Ada orang yang bilang, " Kok hujan sich, jadi kehujanan, pakaian basah semua ! "
Ada orang yang bilang, " Kok hujan sich, jadi ga bisa pergi kemana2 !"
Ada orang yang bilang, " Kok hujan sich, Padahal bentar lagi nyampe rumah !"
Ada orang yang bilang, " Kok hujan sich, .................................."
Dan masih banyak orang yang biang dan mengeluh tentang hujan..

Padahal sebenarnya klo dipikir-pikir..
Coba jikalau tidak ada Hujan sama sekali?
Pohon dan tanaman akan mati, karena kekeringan tidak ada air..
Sungai, sumur2 pun lama kelamaan akan kering..
Sawah pun juga kering...
Dan pasti banyak lagi yang akan terjadi...

Sangat berat memang untuk tidak mengeluh jika turun hujan deras..
Tapi tetaplah berusaha untuk tidak mengeluh...
Karena Allah Subhaanahu Wa Ta'ala menurunkan hujan pastilah ada tujuannya..
Dan Berdoalah Semoga hujan yang turun membawa manfaat dan tidak membawa bencana..

Minggu, 30 Januari 2011

Dipikir Tidak Dipikir...

Ketika ada seseorang yang membuatmu "tidak senang", janganlah bersedih janganlah karena masih banyak orang-orang yang akan membuat kita "Bahagia".

Ketika di kantor banyak masalah...ada orang yang mendzolimi kita, janganlah bersedih...janganlah terlalu dipikir karena kita masih memiliki sahabat, keluarga, tetangga dan orang-orang terdekat kita yang juga perlu kita pikirkan.

Yang perlu kita lakukan adalah Bersabar dan Bersyukur. Karena di luar sana masih banyak orang yang lebih menderita dan kurang beruntung dari kita..

Senin, 11 Oktober 2010

Nikmat

Demikian banyak nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tidak ada satupun manusia yang bisa menghitungnya, meski menggunakan alat secanggih apapun. Pernahkah kita berpikir, untuk apa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan demikian banyak nikmat kepada para hamba-Nya? Untuk sekedar menghabiskan nikmat-nikmat tersebut atau ada tujuan lain?

Luasnya Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala
Sungguh betapa besar dan banyak nikmat yang telah dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Setiap hari silih berganti kita merasakan satu nikmat kemudian beralih kepada nikmat yang lain. Di mana kita terkadang tidak membayangkan sebelumnya akan terjadi dan mendapatkannya. Sangat besar dan banyak karena tidak bisa untuk dibatasi atau dihitung dengan alat secanggih apapun di masa kini.
Semua ini tentunya mengundang kita untuk menyimpulkan betapa besar karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Dalam realita kehidupan, kita menemukan keadaan yang memprihatinkan. Yaitu mayoritas manusia dalam keingkaran dan kekufuran kepada Pemberi Nikmat. Puncaknya adalah menyamakan pemberi nikmat dengan makhluk, yang keadaan makhluk itu sendiri sangat butuh kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tentu hal ini termasuk dari kedzaliman di atas kedzaliman sebagaimana dijelaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kedzaliman yang paling besar.” (QS.Luqman: 13)
Kendati demikian, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya disebabkan “kasih sayang-Nya mendahului murka-Nya” dan membukakan bagi mereka pintu untuk bertaubat. Oleh sebab itu tidak ada alasan bagi hamba ini untuk:
- Ingkar dan kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta menyamakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan makhluk-Nya yang sangat butuh kepada-Nya.
- Menyombongkan diri serta angkuh dengan tidak mau melaksanakan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan larangan-larangan-Nya atau tidak mau menerima kebenaran dan mengentengkan orang lain.
-Tidak mensyukuri pemberian Allah Subhanahu wa Ta'ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan nikmat apapun yang kalian dapatkan adalah datang dari Allah.” (QS.An-Nahl: 53)
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah niscaya kalian tidak akan sanggup.” (QS.An-Nahl: 18)

Pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Satu Tujuan yang Mulia
Dari sekian nikmat yang telah dikaruniakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita, mari kita mencoba menghitungnya. Sudah berapakah dalam kalkulasi kita nikmat yang telah kita syukuri dan dari sekian nikmat yang telah kita pergunakan untuk bermaksiat kepada-Nya. Jika kita menemukan kalkulasi yang baik, maka pujilah Allah Subhanahu wa Ta’ala karena Dia telah memberimu kesempatan yang baik. Jika kita menemukan sebaliknya maka janganlah engkau mencela melainkan dirimu sendiri.(1)
Setiap orang bisa mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini merupakan pemberian Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tahukah anda apa rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta'ala tersebut?
Ketahuilah bahwa kenikmatan yang berlimpah ruah bukanlah tujuan diciptakannya manusia dan bukan pula sebagai wujud cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada manusia tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia untuk sebuah kemuliaan baginya dan menjadikan segala nikmat itu sebagai perantara untuk menyampaikan kepada kemuliaan tersebut. Tujuan itu adalah untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, sebagaimana hal ini disebutkan dalam firman-Nya:
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah kepada-Ku.” (QS.Adz-Dzariyat: 56)
Bagi orang yang berakal akan berusaha mencari rahasia di balik pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berlimpah ruah tersebut. Setelah dia menemukan jawabannya, yaitu untuk beribadah kepada-Nya saja, maka dia akan mengetahui pula bahwa dunia bukan sebagai tujuan.
Sebagai bukti yaitu adanya kematian setelah hidup ini dan adanya kehidupan setelah kematian diiringi dengan persidangan dan pengadilan serta pembalasan dari Allah. Itulah kehidupan yang hakiki di akhirat nanti. Kesimpulan seperti ini akan mengantarkan kepada:
1. Dunia bukan tujuan hidup.
2. Kenikmatan yang ada padanya bukan tujuan diciptakan manusia, akan tetapi sebagai perantara untuk suatu tujuan yang mulia.
3. Semangat beramal untuk tujuan hidup yang hakiki dan kekal.
Ibnu Qudamah rahimahullahu menjelaskan: “Ketahuilah bahwa nikmat itu ada dua bentuk, nikmat yang menjadi tujuan dan nikmat yang menjadi perantara menuju tujuan. Nikmat yang merupakan tujuan adalah kebahagiaan akhirat dan nilainya akan kembali kepada empat perkara.
Pertama : Kekekalan dan tidak ada kebinasaan setelahnya,
Kedua : Kebahagian yang tidak ada duka setelahnya,
Ketiga : Ilmu yang tidak ada kejahilan setelahnya,
Keempat: Kaya yang tidak ada kefakiran setelahnya.
Semua ini merupakan kebahagiaan yang hakiki. Adapun bagian yang kedua (dari dua jenis nikmat) adalah sebagai perantara menuju kebahagiaan yang disebutkan dan ini ada empat perkara:
Pertama : Keutamaan diri sendiri seperti keimanan dan akhlak yang baik.
Kedua : Keutamaan pada badan seperti kekuatan dan kesehatan dan sebagainya.
Ketiga : Keutamaan yang terkait dengan badan seperti harta, kedudukan, dan keluarga.
Keempat: Sebab-sebab yang menghimpun nikmat-nikmat tersebut dengan segala keutamaan seperti hidayah, bimbingan, kebaikan, pertolongan, dan semua nikmat ini adalah besar.” (Mukhtashar Minhajul Qashidin hal. 282)

Rabu, 06 Oktober 2010